Oracle PeopleSoft Jadi Sasaran Utama Serangan Pencurian Data oleh ShinyHunters
Oleh Mag-Info Tech editorial · 2026-06-11

Serangan siber terhadap infrastruktur perangkat lunak bisnis kritis tengah memanas setelah kelompok peretas ShinyHunters secara terbuka mengklaim bertanggung jawab atas pencurian data besar-besaran dari sistem Oracle PeopleSoft. Dalam serangan yang disebut-sebut melibatkan ratusan instans di lebih dari 100 organisasi, kelompok ini tidak hanya menargetkan perusahaan swasta, tetapi juga institusi pendidikan yang sebelumnya pernah menjadi korban pemerasan digital. Meskipun Oracle sebagai pengembang utama belum merilis pernyataan resmi mengenai insiden ini, bukti-bukti serangan ditemukan di direktori daring yang terekspos, menunjukkan bahwa serangan ini bersifat sistematis dan melibatkan eksploitasi terhadap kerentanan lama maupun yang belum diketahui publik.
ShinyHunters mengklaim menggunakan rantai eksploitasi yang mereka sebut sebagai "gadget chain", yang menggabungkan kerentanan lama dan zero-day untuk membobol sistem PeopleSoft. Namun, kelompok ini juga mengakui bahwa tidak semua instans dapat ditembus, tergantung pada konfigurasi sistem yang digunakan. Target utama serangan ini sebagian besar berasal dari sektor pendidikan, dengan banyak korban sebelumnya pernah diekstorsi oleh kelompok yang sama. Dalam pernyataan kontroversialnya, ShinyHunters menyebutkan bahwa mereka awalnya berniat menyerang portal FBI yang menjalankan PeopleSoft untuk "membantah informasi palsu", namun serangan tersebut gagal dan tidak berhasil menembus sistem. Klaim ini menambah kompleksitas serangan, karena menunjukkan motif yang tidak hanya sekadar pencurian data, tetapi juga upaya untuk menyebarkan narasi tertentu.
Oracle PeopleSoft: Target Strategis dalam Infrastruktur Bisnis
Oracle PeopleSoft adalah rangkaian perangkat lunak enterprise yang digunakan oleh organisasi besar untuk mengelola berbagai operasi bisnis krusial, mulai dari sumber daya manusia, penggajian, keuangan, manajemen rantai pasokan, pengadaan, hingga administrasi mahasiswa. Sistem ini sering diandalkan oleh universitas, perusahaan multinasional, dan lembaga pemerintah karena kemampuannya dalam mengintegrasikan berbagai proses bisnis dalam satu platform. Karena posisinya yang sentral dalam operasional organisasi, PeopleSoft menjadi target yang sangat menarik bagi para penyerang siber, baik untuk pencurian data sensitif maupun pemerasan.
Serangan terhadap PeopleSoft bukanlah fenomena baru. Sejak lama, sistem enterprise seperti ini menjadi sasaran karena data yang disimpannya sering kali meliputi informasi pribadi karyawan, data keuangan sensitif, dan rahasia bisnis. Selain itu, kompleksitas sistem PeopleSoft yang sering kali dikonfigurasi secara khusus untuk kebutuhan organisasi tertentu membuatnya rentan terhadap eksploitasi yang tidak terdeteksi. Dalam konteks serangan oleh ShinyHunters, kerentanan ini dimanfaatkan melalui kombinasi eksploitasi lama yang belum ditambal dan potensi zero-day yang belum diketahui oleh Oracle atau komunitas keamanan.
ShinyHunters: Kelompok Pemerasan yang Semakin Agresif
ShinyHunters dikenal sebagai kelompok peretas yang aktif dalam melakukan serangan pemerasan data sejak beberapa tahun terakhir. Kelompok ini terkenal karena taktiknya yang agresif, di mana mereka tidak hanya mencuri data, tetapi juga mempublikasikan sebagian data korban di situs kebocoran mereka jika tuntutan tebusan tidak dipenuhi. Dalam serangan terhadap PeopleSoft, ShinyHunters mengklaim telah berhasil mencuri data dari 300 instans yang tersebar di lebih dari 100 organisasi. Meskipun klaim ini sulit untuk diverifikasi secara independen, pernyataan tersebut menunjukkan skala serangan yang sangat luas.

Salah satu korban yang dikonfirmasi adalah Universitas Nottingham, yang mengakui telah mengalami insiden keamanan siber. Universitas tersebut menyatakan bahwa data mereka telah dipublikasikan di situs kebocoran ShinyHunters. Insiden ini menunjukkan bahwa kelompok ini tidak hanya menargetkan perusahaan komersial, tetapi juga institusi pendidikan, yang sering kali memiliki sumber daya keamanan yang lebih terbatas dibandingkan dengan perusahaan besar. Selain itu, banyak korban dalam serangan ini sebelumnya pernah diekstorsi oleh ShinyHunters, menunjukkan bahwa kelompok ini memiliki rekam jejak yang panjang dalam melakukan serangan berulang terhadap target tertentu.
Metode Serangan: Gadget Chain dan Eksploitasi Kerentanan
ShinyHunters menyebutkan bahwa mereka menggunakan teknik yang mereka sebut sebagai "gadget chain" untuk membobol sistem PeopleSoft. Teknik ini melibatkan penggunaan rantai eksploitasi yang terdiri dari kerentanan lama dan zero-day. Gadget chain sendiri merupakan konsep dalam keamanan siber di mana penyerang menggabungkan beberapa kerentanan kecil untuk mencapai tujuan tertentu, seperti mengeksekusi kode berbahaya atau mendapatkan akses tidak sah. Dalam konteks ini, ShinyHunters memanfaatkan kerentanan yang mungkin sudah diketahui tetapi belum ditambal, serta potensi zero-day yang belum diungkapkan kepada publik.
Namun, kelompok ini juga mengakui bahwa serangan mereka tidak selalu berhasil. Keberhasilan eksploitasi tampaknya bergantung pada bagaimana instans PeopleSoft dikonfigurasi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem PeopleSoft memiliki tingkat kerentanan yang bervariasi tergantung pada pengaturan dan langkah-langkah keamanan yang diterapkan oleh masing-masing organisasi. Meskipun demikian, fakta bahwa ShinyHunters berhasil menembus ratusan instans menunjukkan bahwa masih banyak organisasi yang belum menerapkan praktik keamanan terbaik, seperti pembaruan rutin, pemantauan sistem, dan konfigurasi yang aman.
Bukti Serangan: Direktori Daring yang Terekspos
Peneliti keamanan yang dikenal dengan nama "Michael R" menemukan beberapa direktori daring yang terekspos dan berisi alat-alat yang terkait dengan serangan terhadap PeopleSoft. Direktori ini ditemukan terbuka untuk umum, yang memungkinkan peneliti untuk melihat alat-alat yang digunakan oleh ShinyHunters dalam melakukan serangan. Temuan ini memberikan gambaran tentang bagaimana kelompok ini mempersiapkan dan melaksanakan serangan mereka, serta jenis alat yang mereka gunakan untuk mengeksploitasi kerentanan.
Direktori yang terekspos ini juga menunjukkan bahwa serangan terhadap PeopleSoft bersifat terorganisir dan melibatkan penggunaan alat-alat otomatisasi. Alat-alat ini kemungkinan digunakan untuk memindai instans PeopleSoft yang rentan, mengekstrak data, dan mempersiapkan pemerasan. Meskipun direktori ini telah dilaporkan dan kemungkinan telah ditutup, temuan ini menyoroti pentingnya pemantauan terhadap sistem yang terhubung ke internet dan penerapan praktik keamanan yang ketat.








Hasil nyata dari AI MEFAI. Dapatkan diskon $50 untuk paket Pro.
Disponsori · Kinerja masa lalu tidak menunjukkan hasil masa depan. Bukan saran keuangan.

Respons Oracle: Keterlambatan dan Ketidakpastian
Hingga saat ini, Oracle belum merilis pernyataan resmi mengenai serangan terhadap PeopleSoft. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa cepat perusahaan akan merespons insiden ini dan apakah mereka memiliki pengetahuan tentang kerentanan yang dieksploitasi oleh ShinyHunters. Ketidakpastian ini dapat mempersulit organisasi yang menggunakan PeopleSoft untuk mengambil langkah-langkah mitigasi yang tepat, karena mereka tidak memiliki panduan resmi dari pengembang perangkat lunak.
Oracle memiliki sejarah panjang dalam menangani kerentanan dalam produknya, termasuk PeopleSoft. Namun, dalam kasus ini, kurangnya komunikasi resmi dapat memperburuk situasi, terutama bagi organisasi yang tidak memiliki sumber daya untuk mengidentifikasi dan menambal kerentanan sendiri. Organisasi yang menggunakan PeopleSoft disarankan untuk secara proaktif memantau pembaruan keamanan dari Oracle, menerapkan praktik keamanan terbaik, dan mempertimbangkan untuk melakukan audit keamanan independen terhadap sistem mereka.
Dampak terhadap Sektor Pendidikan dan Organisasi Lainnya
Sektor pendidikan menjadi salah satu korban utama dalam serangan ini, dengan banyak universitas dan institusi pendidikan lainnya menjadi target. Institusi pendidikan sering kali memiliki anggaran keamanan yang terbatas dan sistem yang kompleks, sehingga menjadikannya sasaran yang menarik bagi kelompok peretas. Selain itu, data sensitif yang disimpan oleh institusi pendidikan, seperti informasi pribadi mahasiswa dan karyawan, serta data penelitian, menjadikan mereka target yang berharga bagi penyerang.
Bagi organisasi lain, serangan terhadap PeopleSoft menunjukkan pentingnya untuk tidak hanya mengandalkan pembaruan keamanan dari vendor, tetapi juga untuk secara aktif memantau sistem mereka sendiri. Serangan ini juga menyoroti risiko yang terkait dengan penggunaan perangkat lunak enterprise yang kompleks dan saling terhubung. Organisasi harus mempertimbangkan untuk menerapkan langkah-langkah keamanan tambahan, seperti enkripsi data, kontrol akses yang ketat, dan pemantauan aktivitas jaringan yang berkelanjutan.

Langkah-langkah Mitigasi: Apa yang Bisa Dilakukan Organisasi?
Organisasi yang menggunakan Oracle PeopleSoft harus segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi sistem mereka dari serangan lebih lanjut. Langkah pertama yang paling penting adalah memastikan bahwa semua pembaruan keamanan dari Oracle telah diterapkan. Meskipun ShinyHunters mengklaim menggunakan zero-day, banyak serangan dimulai dengan eksploitasi terhadap kerentanan yang sudah diketahui tetapi belum ditambal.
Selain itu, organisasi harus meninjau konfigurasi sistem mereka untuk memastikan bahwa tidak ada pengaturan yang tidak aman yang dapat dieksploitasi. Pemantauan sistem secara berkelanjutan juga sangat penting untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini. Organisasi juga dapat mempertimbangkan untuk menerapkan solusi keamanan tambahan, seperti firewall aplikasi web (WAF), sistem deteksi intrusi (IDS), dan enkripsi data sensitif. Jika memungkinkan, audit keamanan independen dapat membantu mengidentifikasi kerentanan yang mungkin terlewatkan.
Masa Depan Keamanan Perangkat Lunak Enterprise
Serangan terhadap Oracle PeopleSoft oleh ShinyHunters menyoroti tantangan yang dihadapi oleh organisasi dalam menjaga keamanan perangkat lunak enterprise di tengah ancaman yang terus berkembang. Meskipun vendor seperti Oracle terus menerbitkan pembaruan keamanan, organisasi juga harus mengambil tanggung jawab untuk melindungi sistem mereka sendiri. Hal ini mencakup tidak hanya penerapan pembaruan, tetapi juga penerapan praktik keamanan terbaik, pemantauan sistem, dan persiapan untuk menghadapi insiden keamanan.
Di masa depan, diharapkan bahwa vendor perangkat lunak enterprise akan semakin meningkatkan upaya mereka dalam mendeteksi dan menambal kerentanan, serta memberikan panduan yang lebih jelas kepada pelanggan mereka. Selain itu, organisasi harus lebih proaktif dalam memantau ancaman yang muncul dan mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan yang semakin canggih. Kolaborasi antara vendor, peneliti keamanan, dan organisasi pengguna akan menjadi kunci untuk mengurangi risiko serangan siber di masa depan.
Serangan terhadap Oracle PeopleSoft oleh ShinyHunters adalah pengingat bahwa tidak ada sistem yang benar-benar aman. Namun, dengan mengambil langkah-langkah yang tepat, organisasi dapat mengurangi risiko dan meminimalkan dampak dari serangan semacam itu. Bagi organisasi yang menggunakan PeopleSoft, saatnya untuk bertindak sekarang sebelum menjadi korban berikutnya.
Lebih lanjut di Keamanan Siber & Privasi

Portal Pemberitahuan Pelanggaran Data Maine Lumpuh akibat Hoaks, Apa Dampaknya bagi Perusahaan dan Publik?
Portal pelanggaran data resmi Maine ditutup sementara setelah hoaks disebar lewat sistem publik, ancaman bagi perusahaan dan pengawasan keamanan siber.

Serangan Berbahaya di AUR Arch Linux: Ratusan Paket Kompromi untuk Instal Rootkit eBPF dan Pencuri Kredensial
Lebih dari 400 paket di Arch User Repository (AUR) Arch Linux dikompromikan minggu ini dengan mengubah skrip build untuk menginstal malware pencuri kredensial dan rootkit berbasis eBPF. Serangan ini m

Ancaman Zero-Day Kritis di Oracle PeopleSoft: Dampak, Cara Kerja, dan Langkah Mitigasi
Zero-day kritis CVE-2026-35273 di Oracle PeopleSoft dieksploitasi kelompok ShinyHunters sejak akhir Mei, mencuri data ratusan organisasi dan menuntut tebusan.

