Bitcoin Belum Benar-Benar Aman: Ancaman Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Pasar Kripto
Oleh Mag-Info Tech editorial · 2026-06-15

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan sementara untuk menghentikan perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Meskipun langkah ini awalnya disambut dengan optimisme, pasar kripto—khususnya Bitcoin—belum menunjukkan respons signifikan. Dua kali sebelumnya, gencatan senjata antara kedua negara gagal dipertahankan, dan setiap kali itu terjadi, Bitcoin justru kehilangan seluruh pergerakan positif yang sempat diraih. Dengan pertemuan penting yang dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss, pertanyaan besar muncul: apakah Bitcoin benar-benar sudah aman dari tekanan geopolitik, atau masih menunggu konfirmasi lebih lanjut?
Di tengah dinamika ini, harga minyak dunia justru menunjukkan pergerakan yang lebih tajam dibandingkan aset digital. Setelah kesepakatan interim diumumkan, harga minyak Brent turun lebih dari 4% menuju level $83 per barel, level terendah dalam tiga bulan terakhir. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global. Sementara itu, pasar saham Asia mencatat kenaikan lebih dari 3%, dengan indeks Nikkei Jepang bahkan menuju rekor tertinggi. Bitcoin, di sisi lain, hanya bergerak sedikit di sekitar level $65.000, masih terkurung dalam kisaran $63.000 hingga $65.000 dalam beberapa pekan terakhir. Data dari CoinDesk menunjukkan bahwa pergerakan aset ini relatif terbatas dibandingkan respons pasar keuangan tradisional.
Dua Kali Gencatan Senjata Gagal, Bitcoin Kehilangan Kepercayaan
Sejarah mencatat bahwa Bitcoin telah dua kali “dibakar” oleh kegagalan gencatan senjata antara AS dan Iran dalam beberapa bulan terakhir. Pada bulan April, sebuah kesepakatan sementara sempat dicapai, tetapi hanya bertahan sebentar sebelum runtuh akibat serangan udara AS. Pada awal Juni, gencatan senjata kedua juga pecah setelah serangan AS kembali dilakukan pada tanggal 9 Juni. Setiap kali perjanjian gagal dipertahankan, pasar kripto—terutama Bitcoin—mengalami tekanan berat. Investor tampaknya enggan untuk terlalu optimis sebelum melihat bukti nyata bahwa perdamaian akan bertahan.
Pola ini menunjukkan bahwa pasar kripto, khususnya Bitcoin, saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian mengenai keberlanjutan kesepakatan membuat investor lebih memilih untuk menahan diri daripada mengambil risiko besar. Hal ini tercermin dari pergerakan harga Bitcoin yang stagnan di kisaran sempit, meskipun ada kabar positif mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Kondisi ini berbeda dengan pasar komoditas seperti tembaga, yang justru mencatat kenaikan hingga 1,4% setelah pengumuman kesepakatan interim. Tembaga dianggap lebih responsif terhadap ekspektasi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas rantai pasokan, sementara Bitcoin masih menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Jalur Keputusan untuk Kripto Melalui Bank Sentral
Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terbesar terhadap Bitcoin bukan hanya berasal dari ketegangan geopolitik, tetapi juga dari kebijakan moneter bank sentral di seluruh dunia. Konflik di Timur Tengah menyebabkan lonjakan harga minyak, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan inflasi. Bank sentral, termasuk Federal Reserve AS, cenderung mempertahankan sikap hawkish (ketat) dalam menghadapi inflasi yang tinggi. Kebijakan ini mendorong pasar untuk menyesuaikan ekspektasi suku bunga, yang pada akhirnya memengaruhi aset berisiko seperti kripto.

Namun, jika harga minyak turun akibat terbukanya kembali Selat Hormuz dan stabilisasi pasokan, tekanan inflasi dapat berkurang. Hal ini berpotensi membuat bank sentral lebih akomodatif, terutama jika inflasi mulai mereda. Salah satu indikator penting yang patut diperhatikan adalah pertemuan Bank of Japan (BoJ) yang dijadwalkan segera. Jika BoJ memutuskan untuk menaikkan suku bunga, hal ini bisa mengurangi risiko pembalikan carry trade—a strategi investasi yang memanfaatkan perbedaan suku bunga antar negara. Pembalikan carry trade telah menjadi beban berat bagi pasar kripto dalam beberapa minggu terakhir, karena investor terpaksa menarik dana dari aset berisiko untuk menutupi kerugian di pasar lain.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan sangat bergantung pada dua faktor utama: stabilitas geopolitik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter bank sentral. Jika kedua faktor ini menunjukkan sinyal positif, tekanan terhadap kripto dapat berkurang secara signifikan. Sebaliknya, jika ketegangan kembali meningkat atau bank sentral tetap pada sikap ketat, Bitcoin mungkin masih akan terjebak dalam kisaran harga yang sempit.
Minyak Lebih Responsif daripada Kripto: Apa Bedanya?
Salah satu pertanyaan yang muncul adalah mengapa harga minyak merespons begitu cepat terhadap perkembangan geopolitik, sementara Bitcoin relatif stagnan. Jawabannya terletak pada sifat dasar kedua aset tersebut. Minyak adalah komoditas fisik yang sangat bergantung pada pasokan dan permintaan secara real-time. Ketika Selat Hormuz—jalur utama distribusi minyak global—terancam, dampaknya langsung terasa pada harga. Pasar minyak memiliki mekanisme yang mapan untuk menyesuaikan harga dengan cepat berdasarkan risiko geopolitik.
Di sisi lain, Bitcoin adalah aset digital yang nilainya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makroekonomi, sentimen pasar, dan ekspektasi investor. Meskipun ketegangan geopolitik dapat memicu volatilitas, Bitcoin tidak memiliki korelasi langsung dengan pasokan fisik seperti minyak. Selain itu, pasar kripto masih relatif kecil dibandingkan pasar komoditas, sehingga pergerakannya cenderung lebih lambat dan lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis. Investor Bitcoin saat ini tampaknya masih menunggu konfirmasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan besar, terutama setelah dua kali mengalami kekecewaan akibat kegagalan gencatan senjata.
Perbedaan respons ini juga terlihat dari data. Sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari, harga tembaga naik sekitar 4%, sementara aluminium melonjak hingga 13% karena gangguan rantai pasokan melalui Teluk Persia. Di sisi lain, Bitcoin justru mengalami tekanan karena ketidakpastian yang berkepanjangan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar komoditas lebih cepat beradaptasi dengan perubahan kondisi geopolitik dibandingkan pasar kripto.








Hasil nyata dari AI MEFAI. Dapatkan diskon $50 untuk paket Pro.
Disponsori · Kinerja masa lalu tidak menunjukkan hasil masa depan. Bukan saran keuangan.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor sebelum 19 Juni?
Pertemuan yang dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss menjadi momen krusial bagi pasar kripto. Jika kesepakatan damai antara AS dan Iran berhasil ditegakkan, hal ini dapat membuka jalan bagi stabilisasi harga minyak dan mengurangi tekanan inflasi global. Bank sentral pun berpotensi menjadi lebih akomodatif, yang pada gilirannya dapat meringankan beban pada aset berisiko seperti Bitcoin. Namun, jika kesepakatan gagal lagi, pasar kripto kemungkinan akan kembali mengalami tekanan, terutama jika bank sentral tetap mempertahankan kebijakan ketat.
Bagi investor, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam beberapa minggu ke depan. Pertama, perhatikan perkembangan harga minyak dan reaksi pasar komoditas lainnya. Jika minyak terus turun, hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global. Kedua, pantau kebijakan moneter bank sentral, terutama Federal Reserve dan Bank of Japan. Jika kedua bank sentral menunjukkan tanda-tanda pelonggaran kebijakan, tekanan terhadap Bitcoin dapat berkurang. Ketiga, perhatikan volume perdagangan dan sentimen pasar di platform kripto. Jika terjadi peningkatan aktivitas beli yang signifikan, ini bisa menjadi indikator bahwa investor mulai kembali percaya diri.
Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa Bitcoin saat ini sedang dalam fase konsolidasi. Kisaran harga $63.000 hingga $65.000 telah berlangsung selama beberapa pekan, menunjukkan bahwa pasar masih mencari arah yang jelas. Jika Bitcoin berhasil menembus resistance di level atas, hal ini bisa menjadi sinyal untuk kenaikan lebih lanjut. Sebaliknya, jika support di level bawah tidak dapat dipertahankan, penurunan lebih lanjut mungkin terjadi.
Risiko yang Masih Mengintai: Apa yang Bisa Mengguncang Kripto?
Meskipun ada optimisme yang muncul dari kesepakatan interim, risiko masih tetap ada. Konflik antara AS dan Iran telah berlangsung selama berbulan-bulan, dan sejarah menunjukkan bahwa perjanjian damai seringkali sulit untuk dipertahankan. Jika serangan udara atau tindakan militer kembali terjadi sebelum pertemuan 19 Juni, pasar kripto kemungkinan akan bereaksi negatif. Investor yang terlalu cepat optimis bisa saja kecewa lagi, seperti yang terjadi pada bulan April dan Juni.

Selain itu, faktor eksternal lainnya juga perlu dipertimbangkan. Misalnya, jika terjadi penurunan tajam dalam harga saham atau obligasi, hal ini bisa memicu arus keluar modal dari aset berisiko, termasuk kripto. Begitu juga dengan kebijakan moneter yang tidak terduga, seperti kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari yang diharapkan, dapat menekan pasar kripto lebih jauh. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio tetap menjadi strategi yang bijaksana, terutama dalam kondisi ketidakpastian seperti sekarang.
Bagi trader jangka pendek, volatilitas yang tinggi dapat menciptakan peluang, tetapi juga membawa risiko yang besar. Penting untuk menetapkan batasan kerugian (stop-loss) dan tidak terlalu terpengaruh oleh berita-berita yang belum pasti. Sementara itu, investor jangka panjang mungkin lebih fokus pada fundamental jangka panjang Bitcoin dan potensi adopsi institusional yang terus berlanjut, terlepas dari fluktuasi jangka pendek.
Kesimpulan: Bitcoin Masih dalam Mode Tunggu
Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, ada harapan akan stabilisasi geopolitik dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Di sisi lain, risiko kegagalan kesepakatan dan tekanan kebijakan moneter masih mengintai. Dua kali kegagalan gencatan senjata sebelumnya telah membuat pasar kehilangan kepercayaan, dan hal ini tercermin dari pergerakan harga yang stagnan.
Bagi investor dan trader, penting untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan. Perhatikan perkembangan di depan mata: pertemuan 19 Juni, pergerakan harga minyak, dan kebijakan bank sentral. Jika semua faktor berjalan sesuai harapan, Bitcoin berpotensi untuk keluar dari kisaran sempitnya dan melanjutkan pergerakan naik. Namun, jika ketidakpastian kembali meningkat, bersiaplah untuk volatilitas yang lebih tinggi.
Satu hal yang pasti: Bitcoin belum sepenuhnya aman dari ancaman konflik Timur Tengah. Hanya waktu yang akan menjawab apakah pasar kripto akhirnya bisa melewati fase sulit ini atau masih harus menunggu lebih lama untuk kepastian.
Lebih lanjut di Crypto & Trading

Kemenangan Barry Moore dalam Pilihan Raya Perdana Alabama: Bagaimana $12 Juta Krypto Mengubah Politik AS
Kandidat Senat AS Barry Moore memenangi putaran kedua Alabama dengan dukungan dana krypto terbesar tahun ini, menandai kemenangan strategis bagi industri kripto dalam memengaruhi politik AS.

Sinyal Dasar Bitcoin: Holder Menyerap 125.000 BTC di Juni, Apakah Ini Pertanda Pulih?
Sharpe ratio Bitcoin menyentuh level -20 yang menandai setiap dasar pasar sejak 2015, sementara holder menyerap 125.000 BTC di Juni. Analisis ini membahas apa artinya bagi pergerakan harga dan langkah

Illinois Menetapkan Pajak Transaksi Kripto 0,2%, Industri Bereaksi Menentang
Gubernur Illinois menetapkan pajak transaksi kripto 0,2% mulai 2027, satu-satunya negara bagian AS yang menerapkan pajak ini tanpa memandang pendapatan atau keuntungan pengguna.

